![]() | |
| Noordin M Top |
Nordin diduga berperan sebagai pencari anggota baru utama dan juga penyandang dana untuk kelompok militan Islam regional, jemaah Islamiyah, namun pengamat mengatakan dia kini membentuk kelompok militan sendiri.
Pemerintah Indonesia berhasil membungkam serangan militan sejak bulan September 2005 - sejak serangan bom Bali II yang menewaskan 23 orang.
Tokoh yang diduga sebagai sekutu terdekat Noordin, Azahari Husin yang juga warga Malaysia, tewas dalam operasi polisi tahun 2005.
Dua orang yang menyatakan diri sebagai pemimpin Jemaah Islamiyah dipenjara bulan April 2008 dan tiga pelaku serangan bom Bali dieksekusi mati bulan November tahun 2008.
Namun, serangan bunuh diri di dua hotel Jakarta bulan Juli 2009, yang menewaskan sembilan orang termasuk dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri ini, menimbulkan kekhawatiran bahwa kegiatan militan Noordin kembali dimulai.
Kepala desk anti teror kantor menteri politik dan keamanan mengatakan ada "indikasi kuat" kelompok Noordin yang bertanggungjawab atas serangan itu.
Ganti nama
Noordin lari ke Indonesia bersama Azahari Husin setelah pemerintah Malaysia menghancurkan gerakan Islamis setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
![]() | |
| Azahari tewas di Jawa Timur bulan November tahun 2005 |
Kedua warga Malaysia ini diduga bekerja sama dalam merencanakan serangan, dengan Noordin bertindak sebagai penyandang dana sementara Azahari sebagai pembuat bom.
Selain dua serangan bom di Bali, keduanya juga diduga terlibat dalam dua serangan besar lain - pemboman hotel JW Marriot tahun 2003 yang menewaskan 12 orang dan kedutaan besar Australia tahun 2004 yang menewaskan 11 orang.
Tentara Indonesia akhirnya berhasil mengepung Azahari, seorang insinyur yang meraih gelar Doktor dari Universitas Reading Inggris, di sebuah rumah di Jawa Timur November 2005.
Ayah dua anak ini tewas akibat peluru polisi atau bom yang diledakkan oleh seorang anak buahnya, namun Noordin selalu berhasil lolos dari penangkapan.
Bulan Januari 2006, polisi mengatakan Top menyatakan diri sebagai pemimpin kelompok baru bernama Tanzim Qaedat al-Jihad, yang berarti Kelompok untuk Dasar Jihad.
Para pengamat berspekulasi dia meninggalkan struktur inti Jemaah Islamiyah akibat perbedaan pendapat mengenai serangan pada "sasaran empuk", yang seringkali memakan korban warga sipil.
Bulan April 2006 polisi menggerebek satu rumah di desan Binangun, Jawa Tengah setelah muncul laporan Noordin Top tinggal di sana.
Dua orang yang diduga militan Jemaah Islamiyah tewas dan dua lagi ditangkap dalam aksi tembak menembak yang terjadi dini hari.
Sejumlah bahan peledak kemudian ditemukan di dekat lokasi.
Namun, Noordin Top tidak berada di rumah itu dan dia tetap menjadi sasaran pengejaran utama polisi Indonesia.

